Nie & Ardee Wedding

Yaa Rabb... anugerahkan cinta, di dalam hatiku kepada seorang hamba-Mu...
Jadikanlah cinta itu tumbuh karena cintaku Kepadamu...
Yaa Rabb... anugerahkan pula cinta, di hati seorang hamba-Mu kepadaku...
Jadikan cinta tersebut semakin menguatkan cintanya kepada-Mu...

Ardee'est Things in My Life

Nie & Ardee Wedding

Sri Hanifah

Profil mempelai wanita


Sri Hanifah, putri pertama dari empat bersaudara pasangan Endang Syaiful dan Musiroh. Wanita berdarah Jawa-Sunda ini lahir di Padalarang, Senin 8 Dzulhijjah 1404 atau 3 September 1984 dan menghabiskan masa kecilnya di daerah Kapuk, Cengkareng. Setelah menamatkan pendidikan di SDN Kapuk 01 Pagi, SMPN 45 Unggulan JakBar, SMUN 33 Jakarta, Ia sempat mengajar di Madrasah Ibtida'iyah untuk pelajaran matematika dan Ronin di Bimbel Nurul Fikri PalMerah. Pada tahun 2003 Ia melanjutkan studinya di Sastra Unpad dan akhirnya mengukuhkan gelar S1-nya pada pertengahan 2008.

Gadis yang akrab dipanggil Ipeh oleh rekan-rekannya di Unpad ini memiliki hobi membaca, berorganisasi dan menonton. Hobi berorganisasi telah mengantarkannya aktif di berbagai aktivitas organisasi kemahasiswaan, diantaranya BPM Keluarga Mahasiswa Fakultas Sastra UNPAD, FaMME Fasa UNPAD, dan BEM KEMA UNPAD untuk 3 periode, 2005-2008. Pada kepengurusan BEM KEMA UNPAD 07/08, Ia diamanahi menjadi Menteri PSDMO. Ia pernah berpartisipasi dalam Forum Indonesia Muda (FIM) angkatan IV, sebuah training life skill yang menyatukan banyak aktivis mahasiswa dan kepemudaan dari seluruh Indonesia dalam satu komunitas.

Menurut Nie - begitu nama kecilnya -, karakter dirinya agak keras kepala namun tidak dominan, agak childish, senang mendengarkan, suka terhadap anak-anak, suka mencoba hal-hal baru. Cita-citanya untuk jangka panjang adalah ingin membuat sekolah gratis bagi anak-anak kurang mampu. Saat ini bekerja sebagai amil di bagian Program Development, Rumah Zakat Indonesia.

"Adalah suatu Kehormatan yang luar biasa bagi saya ketika saya diamanahi sebagai amil RZI, karena Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk bekerja sekaligus berjuang untuk umat. " komentar Nie mengenai amanahnya tersebut.

Nie dimata Ardee

Saat menerima biodata nie, saya sudah mulai melihat berbagai kesamaan dari kami berdua, diantaranya dari latar belakang keluarga, aktivitas selama kuliah dan karakter pribadi. Dari pandangan saya sekilas ketika itu, Nie adalah sosok seorang Akhwat yang simpel namun blak-blakan, punya ketertarikan besar pada aktivitas keorganisasian dan punya visi yang jelas tentang bagaimana ia nantinya berperan dalam masyarakat. Hal-hal tersebut telah cukup meyakinkan saya untuk melanjutkan proses. Saya sadari kemudian, banyak hikmah yang saya temui sepanjang proses Ta’aruf, khitbah hingga akhirnya kami tiba di pintu menuju rute petualangan baru yang akan segera kami masuki, bahtera pernikahan.

Ibarat secangkir Cappucino, karakter Nie merupakan perpaduan yang pas dan unik dari beberapa sifat. Sepanjang interaksi kami hingga sekarang, Nie dapat menjadi sosok yang begitu dewasa, memberi sudut pandang baru bagi saya dalam melihat berbagai hal. Tapi ada kalanya, iapun bisa menjadi seorang yang sama sekali berbeda, little bit childish. Proses kami menuju akad memang berjalan agak lambat, namun disatu sisi hal ini saya syukuri, karena kami jadi memiliki kesempatan yang cukup untuk mengenali plus dan minus kami berdua satu sama lain. Tentunya hal tersebut tetap berjalan dalam batas-batas yang tegas sehingga kami tetap berada dalam koridor.

Nie & Ardee Wedding

Ardian Perdana Putra

Profil Mempelai Pria


Lahir di Kampung Melayu, hari Ahad 20 Dzulqaidah 1403 H atau bertepatan dengan 28 Agustus 1983. Orangtuanya memberikan nama Ardian Perdana Putra, buah hati pertama pasangan Aris Munandar dan Dyah Dwi Kusumawati, Kakak sulung dari 5 bersaudara. Menjalani tahun-tahun TK dan SD di Nurul Hidayah, sempat menjalani setahun di SLTPN 1 Ciputat sebelum akhirnya nyantri di Ma'had Husnul Khotimah al Islami hingga 2000. Kemudian Ia melanjutkan pendidikan di SMUN 1 Serpong, Tangerang. Disinilah Ia mulai mengenal kegiatan organisasi pertamanya, Koperasi Siswa SMUN 1 Serpong dimana Ia diamanahi menjadi waketum pada kepengurusan 2001/2002.

Bandung, kota wisata dengan berbagai keunikan khazanah kuliner, fashion dan handicraft telah memikat hatinya sehingga Ia memutuskan untuk melanjutkan petualangan hidupnya di kota tersebut. Ia melanjutkan studi di SITH, Institut Teknologi Bandung. Di kampus Ganesha inilah ia menekuni organisasi kemahasiswaan Himabio Nymphaea, APRES ITB dan terakhir Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB selama 3 periode kepengurusan. Pada kepengurusan kabinet 2006/2007 Ia diamanahi sebagai Dir. SDK PSDM yang menjalankan fungsi pengelolaan SDM intern Kabinet. Seperti juga Nie, Ia sempat berpartisipasi dalam life skill training Forum Indonesia Muda (FIM) yaitu pada penyelenggaraan FIM angkatan VII.

Ketertarikannya pada dunia seni dan desain ternyata berdampak positif secara finansial. Disela-sela TA ia menjalankan profesi sebagai Freelance Designer dan Web Administrator untuk beberapa klien, diantaranya Ariega, Helda-Andi & Helni-Arif twin wedding site, Inna-Verry Wedding site, JPMI Jabar, PT Nusantarindo, PT Green Fuels Indonesia, Bigbanglab dan Trixie Jaya Aluminium. Selain itu Ia juga merintis usaha di bidang media dan penerbitan yang diharapkan InsyaAllah akan menjadi bidang pengabdiannya dimasyarakat kelak selepas S1. Cita-citanya kelak ingin mewujudkan media informasi yang bersih dari propaganda dan fitnah yang menyudutkan umat islam. Agar umat semakin dekat dengan identitasnya sebagai seorang muslim.

Ardee dimata Nie

Orang yang selalu bisa membuat nie mengingat bahwa hidup adalah bersyukur, berjuang dan tidak ada kata menyerah untuk berjuang. Meskipun belum terlalu lama mengenal, InsyaAllah nie yakin dalam beberapa tahun kedepan beliau mampu meraih keberhasilan dalam usahanya. Nie hanya bisa menggambarkan beliau dengan dengan satu kata, “Mas itu baiiik banget…”. Terimakasih karena telah membuat nie menjadi salah satu wanita yang beruntung. Mohon doa agar Nie bisa mendampingi mas untuk berjuang bagi da’wah ini. Bagi Nie, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Semoga Allah kelak mengizinkan kita untuk terus bersama hingga disurganya nanti.

Nie & Ardee Wedding

Proses Ta'aruf

Versi Nie [Versi Ardee]

Ketika aku ditawari untuk ta’aruf (Lagi?), saat itu aku sebenarnya baru memutuskan untuk menunda untuk masuk ke proses selanjutnya. Namun kemudian aku berpikir bahwa jodoh itu bukan kita yang mengatur dan kita tidak akan pernah tahu kapan dan lewat perantaraan siapa Ia akan datang kepada kita. Akhirnya akupun menerima tawaran untuk berta’aruf lagi, ketika itu sahabatku – Indah dan suaminya, kang Rico – menawarkan diri untuk memfasilitasi.

Aku mengirimkan biodata kepada Indah yang kemudian ditawarkan kepada seorang teman kang Rico. Kuketahui kemudian, sang ikhwan adalah teman sekost kang Rico saat melanjutkan studi S2 di ITB. Seperti biasa dan layaknya seorang akhwat, aku kemudian menunggu pihak ikhwan untuk memberi keputusan atas biodataku. Terus terang, perasaanku ketika itu gugup tak karuan, harap-harap cemas. Tetapi apapun hasil dari proses ini telah kupasrahkan sepenuhnya pada Allah. Ketika itu hanya satu doaku untuk keberjalanan proses ini, “Ya Allah, jika ikhwan ini bisa menerima saya apa adanya dan bisa membuatku semakin mencintai-Mu, maka biarlah proses ini berlanjut hingga ketahap pernikahan. Tetapi jika tidak, maka cukupkan saja sampai disini.”.

Akhirnya tiga hari berselang, beliau memberikan jawaban siap melanjutkan proses ini. Keesokan harinya perantara kami mengirimkan biodata sang ikhwan yang sangat panjang, tujuh halaman, lengkap dan detail! Setelah membaca biodata beliau dan memohon petunjuk kepada-Nya, dengan mantap (InsyaAllah) Aku memutuskan untuk melanjutkan proses.

Setelah itu melalui perantara kami, kami menjadwalkan untuk bertemu secara langsung dalam sesi ta’aruf. Tetapi, untuk proses mediasi selanjutnya diserahkan pada guru-guru ngaji kami. Merekalah yang kemudian membantu menjadwalkan waktu dan tempat pertemuan kami berlangsung. Akhirnya diputuskan, kami bertemu pada hari jumat, 12 Juni 2009 di rumah Murabbiyahku.

Hari itu tiba, kami bertemu dengan pendampingan Murabbiyahku. Saat itu kami bertanya mengenai kondisi kami dan keluarga masing-masing secara lebih mendetail. Pada hari itu juga diputuskan kami siap untuk melanjutkan proses.

Satu minggu berselang, beliau datang menemui orangtuaku. Terus terang, ini adalah kali pertama seorang ikhwan datang ke rumah seorang diri, karena sebelumnya aku memang tidak pernah (secara khusus) didatangi oleh seorang ikhwan. Ketika itu aku berpikir, “Berani juga nih Ikhwan datang sendirian.”, karena bapak itu galak kepada teman-temanku yang ikhwan dan responsnya akan cenderung dingin.

Akan tetapi alhamdulillah bapak dan mamah menerima beliau dan alhamdulillah begitupun sebaliknya, akupun mendapatkan sambutan yang sangat baik dari Ayah dan Ibu serta adik-adik beliau di Sawangan. Pada saat itu aku merasa semakin ‘kaya’ karena sekarang aku memiliki 2 pasang orangtua dan jumlah adik-adikku pun bertambah. ^_^

Proses setelah itu adalah khitbah, proses ini berlangsung satu bulan setelah kedatanganku mengunjungi keluarga beliau. Waktu yang lama memang, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk lebih cepat dari itu. Alhamdulillah proses khitbah berjalan dengan lancar.

Masa setelah khitbah adalah masa yang berat bagiku karena kami berdua belum dapat melangsungkan akad dalam waktu dekat. Namun aku bersyukur karena aku diberikan kesempatan untuk semakin mengenal beliau dan aku pun semakin mantap dengan keyakinan tentang mengapa, untuk apa dan bersama siapa aku akan menjalani proses ini. Sujud syukur kepada-Nya, di hari-hari terakhir Ramadhan, menjelang idul fitri, kami mendapatkan persetujuan untuk melangsungkan akad di bulan oktober. Sungguh sebuah anugerah yang amat kusyukuri. Jika tanpa pertolongan-Nya hal itu tidak akan dapat terjadi.

Tidak ada dan tidak pernah ada hal yang saya sesali dari setiap tahapan proses yang kami jalani ini. Hanya syukur yang terucap.

Yaa Rabb izinkan kami membangun peradaban, melalui keluarga yang akan kami bina ini. Dengan sangat kami memohon keridhoan-Mu yaa Rabb. Izinkan dua hati ini bersatu dalam pernikahan yang engkau berkahi.

Nie & Ardee Wedding

Proses Ta'aruf

Versi Ardee [Versi Nie]

Saat aku pertama kali ditawari untuk berproses ta’aruf dengan Nie, sebenarnya aku sedang tidak berencana untuk Ta’aruf. Keputusan ini kuambil untuk mengambil jeda sejenak dan berbenah diri setelah beberapa proses inisiasi ta’aruf sebelumnya tidak berjalan lancar. Ketika itu aku justru sedang berencana untuk kembali fokus pada aktivitas akademik, menyelesaikan Tugas Akhir yang sempat tertunda beberapa waktu. Namun tanpa kuduga-duga, seorang teman yang pernah sekost denganku (Rico, S2 elektro ITB, alumni fisika UNPAD) menawari aku berproses ta’aruf dengan seorang akhwat yang sama sekali belum kukenal. Aku hanya bisa menerka-nerka, kemungkinan sang akhwat merupakan alumni sealmamater Rico. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk menjajaki tawaran tersebut.

Tidak ada harapan berlebih dariku dengan keberjalanan proses ini. Semuanya kupasrahkan saja pada Allah. Nothing to Lose. Jika Allah berkehendak ini berlanjut, maka sesungguhnya memang itulah ketentuan yang telah digariskan-Nya, namun jika tidak seperti yang diharapkan, maka mungkin itu cara Allah memberi kesempatan bagi saya untuk berbenah, belajar dan mendewasakanku. Apapun hasilnya, yang terpenting bagiku, ikhtiar telah kujalankan semampu yang kubisa. Selanjutnya, biarlah Allah yang menentukan seberapa layak kita menerima anugerah terindahnya, pendamping hidup yang akan menemani kita dalam petualangan menemukan ridhonya. Setidaknya, itulah cita-cita tertinggi dari seorang bujang muslim yang hendak menggenapkan setengah Dien.

Biodata Akhwat itu masuk hari senin tanggal 18 Mei 2009. Simpel, hanya 3 halaman, dengan konten yang singkat dan padat, betul-betul efisien. Dari informasi yang kuperoleh, kutemukan bahwa kami memiliki beberapa kesamaan dalam hal latar belakang keluarga dan aktivitas di kampus. Tidak sulit bagiku untuk segera menyimpan ketertarikan pada beliau. Tidak sampai 3 hari, aku langsung mantap untuk lanjut ke proses berikutnya. Hari kamis pagi tanggal 21 Mei 2009, aku konfirmasi via SMS ke Rico. Seminggu kemudian, 27 Mei 2009, Rico mengabarkan bahwa akhwat tersebut bersedia untuk melanjutkan proses. Tantangan selanjutnya adalah, kondisi sang akhwat yang mengajar privat di Jakarta tidak memungkinkan ta’aruf dilakukan di Bandung.

Kabar ini kukomunikasikan dengan Mentor (guru ngaji) yang kemudian melakukan kontak dengan Mentor sang akhwat. Aku mengusulkan beberapa opsi tanggal dan dari pihak sang akhwat mengajukan usulan juga. Setelah terjeda 1-2 pekan karena sulitnya mensinkronkan jadwal, kami berempat (aku, sang akhwat dan Murabbi/yah kami) akhirnya menyepakati ta’aruf dilakukan pada hari Jumat, 12 Juni 2009 pukul 14.30 di rumah sang mentor dengan kondisi Murabbiku tidak dapat mendampingi ke jakarta. Akhirnya kuputuskan meminta sahabatku Kamil, yang memang tinggal di Jakarta untuk menemaniku saat ta’aruf.

Aku dan Kamil janjian bertemu di shelter busway Dukuh Atas untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Cengkareng dengan transit di Harmoni. Setelah sempat nyasar karena salah memilih rute perjalanan (kami turun di grogol dan menggunakan mikrolet menerobos pemukiman sampai ke jalan kapuk, thanks to Google) akhirnya kami sampai pada lokasi yang dimaksud, rumah dari mentor sang akhwat. Saat itu waktu telah mendekati dzuhur, sehingga kami shalat jumat dan makan siang di masjid dekat rumah sang Mentor. Kurang lebih pukul 13, kami kembali ke rumah sang mentor dan sesi ta’aruf pun dimulai.

Ta’aruf berjalan dengan lancar tanpa ada ganjalan dari kedua belah pihak, meskipun pada awalnya, sebenarnya kulihat baik Aku maupun dia sama gugupnya. Sang akhwat menerima kondisi yang kupaparkan tentang pribadi dan keluargaku, termasuk kondisi akademisku yang belum lulus dan pekerjaan sampinganku sebagai desainer freelance, begitu pula sebaliknya. Ta’aruf pun akhirnya berjalan dengan sangat singkat, sehingga kami bisa langsung beralih tentang proses selanjutnya, mengkomunikasikan niat kami pada orangtua dan khitbah.

Kurang lebih seminggu kemudian aku datang ke rumah orangtuanya di daerah Kapuk, Cengkareng. Tepatnya, 21 Juni 2009, selepas menghadiri resepsi dua sahabatku Puti - Lucky. Dengan melalui rute transportasi yang lebih manusiawi dari sebelumnya, aku menghadap Bapak dan Mamah (panggilan Nie pada kedua orangtuanya). Meski agak sedikit dag-dig-dug-jderrr di depan bapak Endang Syaiful akhirnya kusampaikan niatku untuk menikahi putri beliau. Bapak menyambut baik niatku tersebut, beliau memberikan gambaran kondisi keluarga beliau sebenarnya kurang lebih sama seperti keluargaku. Sebelum pamit, aku meminta izin untuk membawa Nie bertemu dengan keluargaku di Sawangan, Depok pekan berikutnya.

Rencana untuk memperkenalkan Nie pada keluargaku tertunda seminggu. Tanggal 5 Juli 2009, akhirnya Nie datang ke rumah, berkenalan dengan Orangtua dan adik-adikku. Alhamdulillah Nie disambut dengan hangat oleh mereka dan cepat mendapat tempat di depan orangtua dan adik-adik. Tantangan kami sesungguhnya baru dimulai pada saat ini, karena dari orangtuaku saat itu mengharapkan agar aku bisa lulus dulu sebelum prosesi akad dilangsungkan. Kedatangan Nie ke rumah menjadi bagian usaha lobbying kami untuk mempercepat proses menuju akad. Alhamdulillah, kami maju selangkah, orangtuaku membolehkan akad dilaksanakan setelah draft skripsiku beres. Target kami selanjutnya adalah mempercepat prosesi khitbah (Lamaran).

Karena sebagian besar waktuku di bandung, usaha kami untuk mengkomunikasikan masalah khitbah kepada orangtuaku agak terhambat. Akhirnya jalan kearah khitbah terbuka saat silaturahmi antar orangtua bisa dijadwalkan pada tanggal 2 Agustus 2009. Orangtua kami bersepakat agar prosesi akad berjalan secara sederhana. Momen silaturahmi ini ini kami berdua manfaatkan untuk melobi kembali orangtua kami untuk mempercepat akad. Kami maju selangkah lagi, dari orangtua kami mengizinkan jika Bab IV skripsiku selesai, akad bisa dilaksanakan. Meskipun terhitung lambat untuk ukuran Ta’aruf normal, hal ini kami syukuri sebagai jalan yang Allah pilihkan untuk membuat kami siap pada saat yang tepat.

Perjalanan menuju Bab IV tidak berjalan semulus yang diharapkan. Hingga pekan kedua Ramadhan, belum ada titik terang mengenai kemajuan pengambilan dataku. Tekanan semakin meningkat dengan adanya mutasi yang dialami Nie dari jakarta ke kantor pusat RZI di Bandung. Di RZI, mengurus izin mutasi antar daerah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bagi seorang Akhwat, alasan yang paling kuat untuk mutasi adalah karena pernikahan, yaitu mengikuti domisili dimana suami tinggal. Adanya mekanisme tersebut membuat kami berdua kemungkinan akan tinggal terpisah hingga beberapa bulan setelah akad.

Perombakan drastis dari struktural keorganisasian di RZI membuka posisi yang lowong bagi Nie di Bandung, namun konsekuensinya mutasi tersebut berjalan dengan sangat mendadak. Nie menerima kabar hari jumat, rabu pekan berikutnya Ia telah mulai bertugas di Bandung. Di satu sisi hal ini patut kami syukuri, karena masalah mutasi antar daerah di RZI pada kondisi normal dapat memakan waktu lebih dari 2 bulan. Hal ini kami yakini sebagai bagian dari kemudahan jalan yang Allah berikan bagi pernikahan kami, karena dengan begitu pasca-pernikahan kami tidak perlu tinggal terpisah antara Jakarta-Bandung karena harus menunggu izin mutasi.

Namun, ada tantangan tersendiri yang kami hadapi dengan kemudahan tersebut. Sejujurnya keberadaan kami berdua di kota yang sama membuka peluang bagi kami untuk sering bertemu. Padahal amat kami sadari, belum ada ikatan apapun yang menghalalkan hubungan kami berdua. Saat dimana kami harus sama-sama memendam keinginan untuk bertemu adalah momen yang paling menyesakkan hati. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain berdoa agar akad bisa segera dilaksanakan dan Allah berkenan menjaga kami agar tetap pada jalan yang diridhoinya.

Puncak dari tekanan tersebut membuat luapan emosiku rasanya ingin meledak. Bersyukur bahwa taushiyah dari Nie selalu bisa meredakan emosiku sebelum itu melukai perasaan orang lain. Pekan ketiga dan keempat ramadhan, aku memberanikan diri untuk melobi kembali keputusan orangtuaku. Setelah proses lobi yang sulit, dengan argumen-argumen yang kuungkapkan terkait keberjalanan skripsiku, akhirnya orangtuaku membuka jalan agar prosesi akad bisa dilakukan. Pekan keempat aku mulai mengurus kelengkapan administrasi ke KUA Jatinegara. Atas undangan Nie, malam takbiran aku berangkat ke Padalarang, menemui kedua orangtua Nie untuk membicarakan masalah ini.

Aku menginap serumah dengan kedua calon orangtuaku tersebut, sedangkan Nie menginap di rumah Emak (kakak perempuan mamahnya). Saat itu menjadi momen dimana aku bisa berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Pembicaraan itu berjalan dengan lancar, pada prinsipnya mereka amat setuju agar hubungan kami segera dikuatkan dengan ikatan pernikahan. Namun mereka berharap agar dapat membicarakan maksud tersebut langsung antar orangtua. Kemudian disepakati pertemuan antar keluarga dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2009. Pertemuan tersebut menjadi ‘khitbah ulang’ dimana keluarga besar dan beberapa pemuka masyarakat dilibatkan, sebagaimana tradisi yang berlaku tanah betawi.

Idul Fitri, 1 Syawwal 1430 Hijriyah adalah salah satu lebaran paling mengharukan dalam hidupku. Aku memang tidak berkumpul dengan keluarga besar ayah di Kampung Melayu atau keluarga besar Ibu di Semarang. Tapi di Padalarang ini, aku menemukan kehangatan sebuah keluarga besar baru. Keluarga besar dengan semua pernak-pernik kultural yang benar-benar asing bagiku. Keberterimaan yang amat aku syukuri, saudara-saudara baru, keponakan-keponakan baru yang lucu (Yasmin, Aiza, Aldin, Shafa, Najwa dll), semuanya menjadi suatu bentuk nyata keberkahan dari jalinan silaturahim dalam pernikahan yang akan Aku dan Nie langsungkan.

Tiada kata yang terucap selain syukur yang tiada habis-habis. Aku bersyukur karena sosok Nie lah yang InsyaAllah akan menemaniku bertahun-tahun mendatang, membina keluarga yang semoga sakinah, membina sekeping kecil batu bata dari sebuah bangunan istana peradaban, menyusun piramida mimpi kami hingga ridho-Nyalah yang menjadi puncak cita-cita kami kelak. Aku bersyukur atas proses yang mungkin dimata orang terlihat ‘tidak terlalu lancar’, namun bagi kami berdua menjadi sangat berkesan karena menjadikan perjuangan kami menuju akad bukan menjadi proses yang biasa-biasa saja. Aku bersyukur bahwa dari setiap momen yang kami lewati Allah menjaga rasa syukur dalam lisan dan hati kami, semoga Ia berkenan untuk tidak menempatkan kami termasuk barisan orang-orang yang kufur atas nikmatnya hingga ajal menjemput.

Yaa Rabb, ampuni kami jika ada noda yang mengotori niat kami, izinkan kami untuk tetap berada dalam bimbingan-Mu, hingga ajal memupus jasad kami dari dunia ini. Ya Rabb, peluklah mimpi-mimpi kami dan catatlah langkah-langkah kami untuk meraihnya menjadi amal yang memberatkan timbangan kebaikan di hari penentuan kelak. Sesungguhnya kami lemah, lalu Engkaulah yang menguatkan. Sesungguhnya kami lumpuh, lalu Engkaulah yang memampukan. Sesungguhnya kami buta, namun Engkaulah yang memberi petunjuk atas jalan keselamatan. Sesungguhnya kami bisu, sebelum akhirnya Engkau memberikan kesempatan bagi kami untuk melafadzkan segenap rasa syukur kami.

Nie & Ardee Wedding

Bismillah... Dengan segala kerendahan hati, memohon Ridho Allah SWT, Restu Orangtua dan Doa dari segenap rekan/kerabat/mitra, Insya Allah akan menikah:

Sri Hanifah (Nie/Hani/Ipeh)

Ayah: Endang Syaiful, Ibu: Musiroh, Anak ke-1 dari 4 bersaudara
[BEM KEMA UNPAD 05-08, Sastra UNPAD 2003, FIM IV]

Ardian Perdana Putra (Ardee/Ardian)

Ayah: Aris Munandar, Ibu: Dyah Dwi Kusumawati, Anak ke-1 dari 5 bersaudara
[Kabinet KM ITB 04-07, Biologi ITB 2003, FIM VII]

Akad Nikah:

Ahad, 28 Syawwal 1430 H / 18 Oktober 2009
Pukul 10.00 WIB
Bertempat di Rumah Mempelai Wanita,
Jln. Kapuk Rawa Gabus Rt 007/011 No.96, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat



Walimatul Ursy:

Ahad, 4 Dzulhijjah 1430 H / 21 November 2009
Pukul 10.00 WIB s.d. Selesai
Bertempat di Rumah Mempelai Wanita,
Jln. Kapuk Rawa Gabus Rt 007/011 No.96, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat


DOWNLOAD PETA RESEPSI | LIHAT DI GOOGLE MAPS

Pengangkat Hajat:

  • Bpk. Rasimin (kakak) Padalarang
  • Bpk. Ngadenan SE (kakak) Kebayoran Lama
  • Bpk. Wiwit Widiyanto SSi (anak) Surabaya
  • Bpk. H. Uun (Adik) Tasikmalaya

Turut Mengundang:

  • Eyang Tati Syukur Baheramsyah
  • Eyang Entien Pratomo
  • Bpk. H. Matum (Tokoh Kapuk)
  • Bpk. H. Maryadi (ketua RW 011)
  • Bpk. H. Napin (Rawa Gabus)
  • Bpk. H. Sapin (Rawa Gabus)
  • Bpk. H. Samin (Ketua RT 007/011)
  • Bpk. Rahim (Rawa Gabus)
  • Bpk. Ust. Alex (Rawa Gabus)
  • Bpk. Ust. Makmur (tokoh Rawa Gabus)
  • Bpk. Ust. Ya'kub (Sesepuh Rawa Gabus)
  • Bpk. Nadih Kilat (Rawa Gabus)
  • Bpk. Ust. M. Arifin (tokoh Rawa Gabus)
  • Bpk. Ust. Abdul Qodir (Pasar Darurat)

Nie & Ardee Wedding

Galeri foto: Gallery Foto

"Ultimate Destiny" Theme for Sri Hanifah & Ardian Perdana Putra Wedding Site by Ardian Perdana Putra
Email: emailnya[at]ardee.web.id/delcardino[at]yahoo.com | Phone: 022 92 456 409/0856 248 78 208